Minggu, September 07, 2008

Hard Skill Dan Soft Skill

Hard skill adalah kemampuan anak terhadap ilmu (teori) yang telah diperoleh. Dalam aplikasinya berupa penjelasan ilmu atau kemampuan daya nalar terhadap sesuatu (sederhananya IQ). Hard skill akan diperoleh dari proses hapalan dan pendalaman materi dari model-model pembelajaran yang telah biasa dilakukan disekolah. Kemampuan hard skill setiap anak dapat dinilai dari prestasi raport yang diperoleh setiap semester.
Soft skill adalah kemampuan anak untuk menerapkan ilmu teori terhadap Tuhan, manusia lain dan ataupun alam (dengan kata lain EQ dan SQ). Kemampuan tersebut dalam bentuk metode perilaku terhadap dirinya dan makhluk hidup lainnya ataupun alam. Perilaku tersebut misalnya bagaimana keiklasan beribadah, hormat pada orang tua, menghargai yang lebih tua, mau mengalah, bersikap, bagimana cara bicara dan lain-lain. Kemampuan softskill anak juga dapat dilihat dengan bagaimana bersosialisasi, berkreatif, menghargai makhluk hidup lainnya termasuk menghargai alam. Proses pembelajaran softskill anak tentunya tidak akan manjur apabila hanya dengan metode pembelajaran yang telah dilakukan selama ini (cara konvensional sekolah). Proses pembelajaran yang baik tentunya dengan aplikasi nyata.
Contohnya : Anak sekarang umumnya sangat pandai hapalan Al Qur-an, tetapi dalam bersikap menghargai pada temannya masih kurang. Hal ini menunjukkan sekolah dan orang tua telah sukses membimbing anak dalam hardskill tetapi masih kurang dalam softskill. Sehingga Peningkatan softskill perlu dilakukan, tentunya harus ada kerjasama antara pihak sekolah - orang tua – dan anak.
Mata pelajaran yang cenderung hardskill misalnya Matematika, IPA, Bahasa.
Bagaimana proses pembelajaran yang baik?. Proses pembelajaran yang baik seperti yang telah diterapkan selama ini. Tentunya dengan peningkatan-peningkatan sesuai dengan perkembangan situasi dan waktu yang terus berkembang.
Mata Pelajaran yang cenderung softskill misalnya PPKN, Agama, ketrampilan.
Bagaimana Proses pembelajaran yang baik?. Pembelajaran yang telah dilakukan sekarang melulu hanya sebatas hapalan. Seharusnya hapalan tidak perlu 100% dilakukan, cukup kira2 ± 50% saja yang berupa hapalan, dari proses pembelajaran tersebut sisanya pemahaman dan perilaku nyata (contoh langsung aplikasi dan suri tauladan). Kelemahan hapalan adalah cenderung akan tertutup begitu ada hapalan berikutnya. Hapalan yang cukup <50% saja diikuti dengan pemahanan dan contoh langsung dilapangan akan sangat membekas dipikiran setiap anak.

1 komentar:

RIZQI HANABELLA mengatakan...

WAH SUDAH JADI USTADAH ANNA YA BAGUS...BAGUS KATANYA BERBUDI DAYA JAMUR YA TAPI KOK NGGAK ADA DI BLOG TENTANG JAMUR DIADAIN DONG DITINGKATKAN YA.